Buddhisme
19.56 | Author: Kelas_ku_keren

BUDDHISME

Buddha dan pengikut awalnya.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, para sejarahwan khususnya para ahli Indologi berusaha untuk merekonstruksikan fakta historis tentang tokoh Buddha yang historis. Mereka menyaring elemen-elemen historis yang tersirat dalam berbagai macam legende seperti termuat dalam sumber tertulis, misalnya dalam Kanon-Pali, teks-teks bahasa Sanskrit dsb. Para ahli bersepakat bahwa Buddha dengan nama aslinya “Siddhattha Gotama“ hidup dari tahun 563 sampai 483 seb.M. Beliau wafat pada usia 80 tahun.[1] Tradisi Buddhis di Srilangka dan di Asia Tenggara menetapkan kematian Buddha pada tahun 544 seb. M., tetapi para ahli Indologi dari barat memandang tahun itu sebagai tidak tepat. Di dalam Kronik Srilangka, yaitu Dîpavamsa dan Mahâvamsa, disebutkan bahwa masa sejak kematian Buddha sampai dengan pelantikan Asoka sebagai kaiser berlangsung 218 tahun. Secara historis raja Asoka mulai memerintah di India pada tahun 268 seb. M., dan beliau dilantik sebagai kaiser pada tahun 265 seb.M. Itu berarti bahwa dengan berpijak pada tahun pelantikan Asoka sebagai kaiser, maka kematian Buddha harus jatuh pada tahun 483 seb. M. Dengan demikian, kelahirannya bila dikurangi 80 tahun (maksudnya: ditambahkan ke depan), justru jatuh pada tahun 563 seb.M.

Buddha atau Siddattha Gotama berasal dari keluarga ksatria dalam tradisi Hinduisme di Kapilavasthu, India. Keluarganya disebut Gotama dari suku Sakya (juga disebut Sakka) yang meliputi sekitar 5000 orang di wilayah itu.[2] Ketika ibunya, Mâyâ, mengandung, ibunya melarikan diri dari suaminya, Suddhodana, menuju tempat asal orangtua Mâyâ di Devadaha. Di tengah jalan di hutan kecil dekat desa Lumbini (240 km timur laut Benares dan kini berada di wilayah Nepal), ibu Mâyâ melahirkan Siddattha dan membawanya kembali ke Kapilavasthu. Satu minggu kemudian ibu Mâyâ meninggal dunia, dan akhirnya si kecil Siddattha diasuh oleh adik kandung Mâyâ, yaitu Mahâpajâpati. Adik kandung ibu Siddattha diperistri lagi oleh ayahnya Suddhodana, dan dari perkawinan mereka lahirlah adik tiri Siddattha, yaitu seorang putera bernama Nanda dan seorang putri. Ketika Siddattha masih kecil, ayahnya memegang tampuk pemerintahan sebagai raja di wilayah Sakya yang beribukotakan Kapilavasthu.

Masa muda Siddattha dilewati tanpa banyak kerisauan akan kesejahteraan hidupnya. Ia dididik dalam lingkungan istana untuk menjadi seorang ksatria yang memiliki watak seorang serdadu seperti pengendara, pandai memegang busur, pandai memanah, pandai mengendarai gajah dsb. Pada usia 16 tahun ia nikah dengan Yasodharâ yang juga berusia 16 tahun, puteri dari pamannya (saudara kandung dari ibunya Mâyâ). Baru pada usia mereka yang ke 29, mereka berdua dikarunia seorang putera yang disebut Râhula. Akan tetapi, Siddattha adalah seorang yang berwatak kontemplatif dan tidak ingin tampil di muka umum, apalagi watak ksatria sama sekali tidak cocok untuk dia. Maka, sesudah kelahiran Râhula, ia dalam usia 29 tahun meninggalkan keluarga, teman dan kampung halamannya untuk mengembara mencari arti hidup dan kebenaran religius, setelah dia menurut ceritera legende berpapasan dengan seorang tua, seorang sakit, seorang mayat dan seorang biarawan.[3] Siddattha mengembara dan menggabungkan diri dengan satu gerakan asketis yang disebut gerakan Samana.[4]

Di dalam gerakan ini ia berguru pada dua pembimbingnya, yaitu Alâra Kâlâma (Skr:[5] Arâda Kâlâma) dan Uddaka Râmaputta (Skr. Udraka Râmaputra), tetapi dia tidak puas dan tidak setia pada tuntutan-tuntutan asketis yang berlebihan dari gerakan itu. Akhirnya, Dia meninggalkan mereka dan bertapa sendirian di dekat desa Uruvelâ (sekarang: Bodh Gayâ, sekitar 210 km tenggara Benares). Lima pertapa datang bergabung dengannya, tapi kemudian mereka juga meninggalkan Siddattha sendirian, karena mereka melihat bahwa Siddattha mulai makan untuk memulihkan kembali kesehatan yang terganggu oleh karena askese dan mati raga yang berlebihan; Siddattha menurut mereka tidak setia terhadap peraturan askese dan mati raganya. Dengan kekuatan yang terpulih kembali Siddattha meneruskan meditasinya di bawah pohon Assattha atau Pippala yang besar dan tinggi (Ficus religiosa), dan di sana ia mengalami pencerahan (Bodhi) pada tahun 528 seb.M., ketika dia berusia 35 tahun, tepatnya pada malam pertama bulan purnama dalam bulan Vesâkha (April-Mei).[6] Dia yang mengalami pencerahan ini disebut “Buddha“ yang berarti “yang terjaga“. Pengalaman pencerahan itu punya makna penting untuk dia, yaitu pengenalan akan lingkaran kefanaan hidup (makna intelektual) dan pengalaman akan pembebasan dari penderitaan (makna psikologis).

Segera setelah pengalaman pencerahan, dua saudagar dari Ukkala (wilayah Orisa?), yaitu Tapussa dan Bhallika, menemuinya dalam perjalanan dagang mereka; mereka memberi dia makanan dan pakaian. Merekalah penganut awam pertama yang menaruh simpati dan berminat pada kata-kata dan kepribadiannya, meskipun mereka belum bisa menggabungkan diri dengannya. Berkat permohonannya kepada dewa Brahmâ Sahampati dan atas petunjukNya, Buddha berangkat dari situ menuju Benares untuk berkotbah di sana tentang keselamatan yang dibutuhkan oleh umat manusia. Ia bermaksud untuk bertemu dengan dua gurunya dari gerakan Semana dan lima pertapa yang meninggalkan dia dulu agar mereka bisa menjadi muridnya, tetapi kedua gurunya itu sudah meninggal dunia lebih dahulu, sementara lima pertapa berhasil ditemuinya kembali.

Kelima pertapa ini semula ragu-ragu terhadap ajaran Buddha, tetapi mereka akhirnya dapat diyakinkan oleh ajarannya dan menjadi murid pertama Buddha.[7] Mereka adalah Kondanna, Vappa, Bhaddiyah, Mahânâma dan Assaji. Mereka membangun satu kelompok baru yang disebut “sangha“, yaitu satu serikat biarawan pengikut Buddha tanpa didasarkan pada ikatan kasta. Mereka kemudian ditahbiskan menjadi “Bhikkhu“ (biarawan Buddha) setelah menjalani semacam masa novisiat dan mencapai usia 20 tahun ke atas. Mereka ini berada langsung di bawah kepemimpinan Buddha. Upacara penerimaan mereka ke dalam persekutuan baru ini diadopsikan Buddha dari gerakan Semana. Dalam beberapa bulan kemudian, jumlah anggota biarawan bertambah menjadi 61 orang, setelah Yasha, seorang putera dari keluarga kaya di Benares, menjadi murid keenam dalam persekutuan baru ini.

Kotbah pertama Buddha berlangsung di Isipatana (Skr. Rishivadâna = Sarnâth) di hadapan muridnya, dan kotbah ini yang disebut “Berputarnya roda Dhamma (Skr. Dharma)“ berisikan ajaran tentang jalan Buddha, yaitu jalan tengah antara dua ekstrem yang harus dihindarkan: antara menyerahkan diri kepada nafsu dunia dan bermatiraga secara berlebihan. Menurut Buddha, jalan tengah itu ditempuh melalui pengenalan akan 4 kebenaran mulia (ârya-satya) dan 8 jalan disiplin diri (ârya-astanga-mârga), dan bila orang melakukan itu, maka dia akan mengalami pencerahan, memperoleh pembebasan dari penderitaan dan masuk nirvana.[8] Buddha dalam kegiatan misinya baik melalui perkataan dan kepribadiannya justru merebut hati banyak orang baik dari kalangan orang kaya, para penguasa, masyarakat biasa dan kaum pertapa dari berbagai aliran keagamaan. Pengikut-pengikutnya terdiri dari kaum biarawan yang hidup dalam biara dan kaum awam yang hidup sebagai warga masyarakat biasa di tengah-tengah dunia. Menurut Kanon-Pali, tidak ada pembedaan murid-murid klas satu untuk kaum biarawan dan murid-murid klas dua untuk kaum awam. Mereka semua adalah pengikut-pengikut sah Buddha, dan mereka akan mengalami pencerahan dan pembebasan bila mereka mengikuti ajaran Buddha dan meneladani perbuatan Buddha.[9]



[1] Schumann, Hans Wolfgang: Buddhismus. Stifter, Schulen und Systeme. München: Eugen Diederichs Verlag, 1995, hlm. 13, bdk. Klimkeit, Hans-Joachim: Der Buddha. Leben und Lehre. Stuttgart: Verlag W. Kohlhammer, 1990, hlm. 23.

[2] Ibid, hlm. 13-15.

[3] Ibid, hlm. 16-18.

[4] Gerakan Samana adalah satu gerakan yang tidak terorganisir dan bersifat individualistis di dalam tradisi Brahmanisme ( sekitar tahun 600 seb.M.). Kebanyakan anggotanya berasal dari kelompok “bukan-Brahmana“. Keanggotaannya tidak mengutamakan kasta. Mereka hidup tanpa harta milik, hidup selibat dan mengemis, dan bertapa. Ibid, hlm. 18.

[5] Singkatan “Skr“ dimaksudkan bahwa istilah yang disebut dalam kurung digunakan dalam bahasa Sanskrit, sedangkan yang disebut sebelumnya digunakan dalam bahasa Pali, bahasa yang dipakai dalam Kanon-Pali.

[6] Ibid, hlm. 21.

[7] Ibid, hlm. 21-25.

[8] Ibid, hlm. 22-24, bdk. Klimkeit, Hans-Joachim: Der Buddha.....Op.cit., hlm. 94-95; 221; 227.

[9] Ibid, hlm. 27.

This entry was posted on 19.56 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: